Rabu, 17 September 2014

Maag = Cemas,Panik.


     Berawal dari mengkonsumsi antibiotik dosis tinggi.awal berteman dengan maag,lalu bersahabat dengan rasa cemas,dan kian akrab dengan rasa panik,lalu melalang buana dengan pobia.
Siapa sangka keceriaan bertukar dengan kemurungan pribadi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya,Hari-hari harus berkutat dengan cemas yang berlebih,panik dengan keadaan diri sendiri bahkan tidak bisa melihat alat  tensi ( Pengukur tekanan darah ) jangankan melihat mendengarkannya saja jantung ini rasanya mau copot,keringat berlomba lomba keluar lewat celah pori2 kulit,bibir kaku,pandangan buram,kaki rasanya tidak lagi jejak ke bumi.badan lemas,wajah pucat pasih.lengkap rasanya menuju kematian !
     Perlahan mengingat kembali penyebab semua ketakutan ini,memberanikan diri terbuka,mencari sahabat terbaik tempat berbagi.mendekatkan diri pada yang maha kuasa,lebih dekat lagi,bahkan timbul rasa kepasrahan kepadaNya,rasanya perlahan beban hati terangkat.dibukakan segala cara menuju kesembuhan.
    Hingga menemukan seseorang untuk mencoba sekantong herbal,yang hingga saat ini masih dikonsumsi,dan alhamdulillah aku mulai berhasil melawan maag,perlahan cemas dan panik tidak lagi a
ku alami.   

Minggu, 14 September 2014

Kemuning Senja

Kembalilah...
Petang mengetuk kelam
Disini tempatmu menuai mimpi
Bersama dinding dinding harapan

Kembalilah...
Ada tikar pandan pelepas lelah
Tempat merapat bersila kaki
Agar ocehan siang kau kumandangkan
Bersama aku dan buah hatimu

Kembalilah...
Sudah tinggalkan sejenak silau dunia
Tempat keringat jadi saksi
Tempat darah memacuh nadi
Tempat tulang saling berdeting

Kembalilah...
Sudah ku siapkan sepinggan nasi
Segelas air
Sebongkah rindu
Seraup kasih




Penawar rindu,150914